
Aku : Lan, dah pergi yah (bersedih)
Rembulan : Kenapa sedih, Mil? ikut sedih nih.
Aku : Iya, sedih nih. Kamu pergi Tak bilang-bilang. Hm, kapan kita bisa jadian ya?
Rembulan : Nguik! Hem, kan yg penting stay oL.
Aku : Tapi Tak seindah kalo lagi ol di w-net. Aku ngomong gitu, kamu bisa langsung balas. Sekarang, repot. Apalagi jaringan suka kacau.
Rembulan : Hem, sabar, Mil. Cinta tak ada manisnya tanpa rintangan, ya kan?
Aku : Yah, kita lihat saja nanti. Apa perasaan ini benar atau cuma euforia sementara.
Rembulan : Wahaha, bercanda kali mil, euforia... kayak Lan psikotropik aja
Aku : Yah, kamu menjelma menjadi candu bagi tubuhku. Enyah! enyahlah. Tapi aku tak bisa. Karena aku ingin kau tetap di sini. dalam diam dan senyapku.”
Rembulan : Wa... posting, posting!!! diperindah. Terus kasih judul 'teruntuk Rembulan, dari Mil yg sedang jatuh cinta (tertawa)
Aku : Enak saja! cinta tak perlu diumbar-umbar. Karena cinta itu seperti hujan. Memaksa untuk menggenang biar kau berkeras untuk membendungnya. Cinta pun tak perlu diperindah. Karena ia seperti mawar. Semerbak wangi walaupun kau menyebutnya kamboja.
Rembulan : Wah... pujanggane metu ki, hihihi, Mil. Lan jadi kangen si Matahari.
Aku : Nah! Dan untuk kesekian kali, kau membakar hatiku lagi. Oleh darahku, panas itu dibawa sampai ke ubun-ubun. Tinggal di sana dan membuat iblis merayuku untuk membencimu. Berhentilah perempuan, berhentilah! Atau aku bisa membencimu begitu rupa. Suatu hasrat yang sama sekali tak sudi kurasakan.
Rembulan : Ha? hem... bagaimana aku tau kau sungguh terbakar? Jangan-jangan, hanya seberkas cahaya lilin saja apinya.
Aku : Haah..!?(terkejut) aku pun bahkan tak tahu harus meyakinkanmu dengan cara apa. Atau jika kau berdiam di dekat laut, di mana suar meregang nyala-nyala. Keluarlah, hirup belaian lembut udara dan dengarkan, aku membisikanmu kegalauanku. Jika masih tak bisa, rabalah muka air yang dingin. Sudah kau rasa? belum? Rasakan lagi, semakin hangat bukan? Itulah panas deritaku, di laut yang sama di mana dunia kita saling menyatu.
Rembulan : hem?
Aku : Apa yang kau rasakan wahai penusuk jantung?
Rembulan : Berharap nyatanya ujudku di jantungmu, sosokku di pelupuk mata, hingga tiap kau terpejam, selalu ada aku.
Aku : Dan mengapa harus menunggu? Demi sejuta embun pagiku! Tak jua aku membangun sebuah rumah. Pun di hatimu. Lantas, kemana aku pulang?”
Rembulan : Hem, Mil, Kau ke jawa saja, ke tempatku. Nanti bacakan puisi-puisi itu. And you'll see... Bulan yang merona and speechless
Aku : (Tersenyum) Aku pikir kau sudah jatuh cinta.
Rembulan : Wehehe, bagaimana ya? Hmm... Aku beri tahu, tapi jangan bilang siapa-siapa, ok? Lan paling tak bisa (menolak) sama penulis, sudah pasti dapat lampu hijau dariku. Apalagi kalau Lan dikasih tulisan-tulisan seperti itu. (tertawa) , langsung melting deh. Matahari sama **** (nama seseorang) kan juga suka menulis.
Aku : Hhm... cuma waktuku saja yang tak tepat, ya? Oh, andai saja waktu bisa sedikit memberi ruang istirah dan menunggu. Pepucuk ini kan rela bemekaran di taman-taman mimpimu.
Rembulan : Hem... waktu memberimu ruang, begitu luas. Sangat luas tak berbatas. Bila kau sudi menunggu. Hanya hitungan hari, tak bisakah?
Aku : Entah...
Rembulan : Hiks!(menangis, oh, bukan! Tertawa. Ah, entahlah) Kenapa ya, Mil? Kita bahas sesuatu yang tak penting, (tertawa terkikih)
Aku : (Terpukul) Tak penting? Yah, tidak penting bagimu memang.
Rembulan : Aaaa, Miiiil... Lan jadi serba salah nih. Mil, serius apa becanda sih?! (garuk-garuk kepala)
Aku : Bukan, bukan padaku. Tapi hatimu, pertanyaan seperti itu pantas terlontarkan.
Rembulan : Hatiku menajawab sesuai tanyamu. Hiiiih, gemes. Bisakah kau jawab ya atau tidak, serius atau bercanda, tanpa bumbu kata, tanpa kelit makna, jadi rancu kan artinya?
Aku : Lantas, apa jawab hatimu, samakah?
Rembulan : Mil, jawab dulu dong. Kan, Lan yang tanya duluan.
Aku : Sudah, kamu mending tidur aja, Lan. Lupakan semua ocehanku...
Rembulan : Besok ujian, Mil. Jadi tidak bisa tidur, musti belajar.
Aku : Paling tidak berhentilah bertanya.
Rembulan : Sudah baca seno yang 'Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta' ?
Aku : Belum, aku belum baca. Yang mana itu?
Rembulan : Cerpen mil, hem, bukannya dikau suka Seno?
Aku : Suka, tapi aku tak punya yang itu. Cerpennya yang itu terbitnya di mana?
Rembulan : Lan baca kumcernya. Judulnya, ya itu, 'Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta', kalo lingue dah baca? 'Cintaku di Pulau Komodo', hiks! Daleeeeem.
Aku : Siapa yang mengajarimu tentang Seno? Dia? Si matahari? Ugh.. Lan, aku semakin terbakar.
Rembulan : Bukan Mil, kamu.
Aku : Bukan Mil, kamu ? Aku butuh penjelasan.
Rembulan : Psssst.... Mil, baca sesuai tanda baca. Usah bertanya. Raba saja maknanya.
Aku : Aku tak pernah merasa mengajarimu apa-apa
Rembulan : Mengajari tak harus merasa, cukup kau kibas tanganmu, tanganku turut berkibas, kau gigit bibirmu, maka kau pun akan dapati bibirku telah tergigit
Aku : Omong kosong, siapa dirimu? Bayanganku yang bermimpi menjelma angin?
Seperti aku misalnya? He..he..he. Kawan, kau tampaknya sedang tergila-gila pada perempuan ini. Apa lagi yang kau risaukan, heh?
Rembulan : Aku adalah yang ingin menjadi bagian darimu
Aku : Hentikan Rembulan, bahaya...
Rembulan :(Tertawa, ugh! ingin sekali aku meremas pipinya)
Aku : Oh Rembulan, tak seriuskah engkau? Fuih, syukurlah, aku benar-benar takkan tega membiarkanmu menjadi diriku. Siapakah aku? hanya lumpur hitam yang berharap rembulan singgah dan bertinggung di sisinya untuk sementara waktu.
Rembulan : Um... begitu ya? i dont think so...
Aku : Jika tidak begitu, menurutmu aku 'binatang' seperti apa?
Rembulan : Hem... apa ya? bukan, bukan apa, tapi siapa, Mil tetap Mil
Aku : Nyatanya kau tak kenal aku
(Hening, beberapa saat kemudian)
Aku : Rembulan, coba pejamkan matamu dan tidurlah
(Lalu)
Aku : (Berbisik... lirih seperti hembusan angin antara rerumpunan bambu) entahlah, tapi sepertinya aku mulai menyayangimu, Rembulanku.***
Senin, 02 Juli 2007
Percakapan Dengan Rembulan
Dimadahkan Oleh
Muzzammil Massa
Pukul
08.31
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 Reaksi:
Posting Komentar