
Tepat setelah aku menutup jendela, kau datang. Perempuan yang oleh kupu-kupu tadi disebut sebagai “kekasihku”. Berjalan dari arah dapur, di tanganmu ada nampan berisi dua cangkir kopi yang sedang berevaporasi. Kau memang penggemar kopi. Sari bebijian kering dari tumbuhan yang hanya dapat hidup di atas ketinggian 400 meter atau lebih, iklim sedang tak banyak hujan dengan suhu sekitar 16 – 24 derajat celcius. Aku sendiri awalnya tak suka kopi. Namun ternyata aku hanya belum terbiasa saja. Buktinya setelah mengenalmu, aku malah ikut-ikutan keranjingan cairan hitam pekat itu.
“Kopi memang nikmat diminum saat hujan. Terutama bersama orang yang kita kasihi,” begitu menurutmu.
Seperti malam ini, mungkin?
Di atas nampan yang sama, sepiring muffin cokelat bertabur kismis dan wijen seolah tersenyum padaku. Gelagatnya menggoda. Sedikit malu-malu. Aha! aku tahu, itu pasti hasil resep rubrik boga dari majalah wanita langgananmu. Kau lalu meletakkan bawaan sambil memandangku dengan separuh mengangguk. Sebuah ekspresi bertanya : ada apa? Yang kujawab dengan gelengan : tidak ada.
“Hanya serangga kecil yang butuh tempat berteduh,” ucapku sambil menunjuk kupu-kupu di bibir guci. Lagi-lagi dengan bantuan mimik wajah.
“Kali ini apa?” Tanyaku mengalihkan tema pembicaraan, “arabika atau robusta?”
“Kopi luwak!”
Rasa jijikku sontak terbit.
“Hahaha! Ya enggak, lah. Cuma kopi instan biasa, kok”
Ah, tentu saja. Mana mungkin kau mau menyuguhkan kotoran seperti itu untukku. Aku tak menyebut kotoran dengan tanda kutip. Karena kopi luwak adalah kopi yang benar-benar berupa kotoran. Kotoran luwak tepatnya. Hewan sejenis sigung pemakan kopi yang sisa pencernaannya lantas ditadah untuk dijual seperti kopi biasa. Tak perlu proses pengolahan lagi. Konon jenis ini merupakan kopi terenak yang pernah ada, – tetapi tetap saja memuakkan bagiku – mahal sekaligus langka karena populasi luwak yang semakin lama makin menyusut. Bahkan belakangan dikabarkan telah punah. Aku yakin kau takkan sanggup mendapatkannya.
“Seratus dollar per 450 gram. Uh, aku belum sekaya itu untuk mengeluarkan uang banyak demi sekedar kopi.”
See!
Seperti biasa, kau akan mulai melakukan ritual khasmu sebelum ngopi. Memegang dinding cangkir, bukan pada tangkainya dengan kedua belah telapak tangan. Lalu kau angkat cangkir itu amat hati-hati sampai tepat menyentuh bibir. Lantas, kau hirup uapnya sembari memejamkan mata. Seperti tengah membaui aroma surga. Dan – bagian ini yang paling kusuka – kau tersenyum dengan mata berbinar sembari mengecap minuman itu perlahan dalam satu tegukan kecil. Akhirnya, setelah aliran kopi menggercak lewat tenggorokanmu dan hangatnya memenuhi ruang semu dalam dadamu, kau mendesah puas.
“What’s wrong?!” tanyamu setengah memprotes ketertegunanku.
“Kau benar-benar menikmatinya, ya?”
“Yeah! Tapi hanya pada tegukan pertama saja aku melakukan ini. Selanjutnya aku meminumnya seperti kebanyakan orang.”
Kau berhenti sejenak untuk meneguk kopimu kembali. Mendesah lagi selaksa rasa kopi yang kuat itu tengah berkejaran di sekujur pembuluh kapilermu.
“Eh, tahu nggak? Sebelum wabah HV menyebar di abad 19, kopi jawa dari varietas arabika adalah kopi yang paling tinggi mutunya di dunia. Sekarang, mendapat saingan berat dari Brazil dan Kolombia. Tapi bagiku kopi panggang Jawa adalah yang paling enak.”
“Ah Medhita, tahukah kau bahwa kopi punya sejarah kelam di negeri ini?” Sergahku. “Cultuurstelseel. Saat penjajah memaksa para petani pribumi menanami tanah-tanah mereka dengan berbagai tanaman komoditas ekspor yang laku saat itu. Hampir-hampir tak ada ruang tersisa untuk menanam padi. Makanan pokok rakyat. Pun setelahnya, keringat mereka tak dibayar pantas. Wabah lapar meruyak di hampir setiap ceruk pulau Jawa. Begitu kelamnya sejarah itu sampai-sampai Multatuli tergerak hati untuk menuliskannya dalam Max Havelaar. Cerita tentang kopi Jawa yang sudah melanglang buana sama sekali tidak membuatku bangga. Isinya melulu tentang perbudakan dan penghisapan semata.”
“Well, Mungkin hal itu tak pernah terpikir di kepala para programmer di netscape saat membuat aplikasi JavaScript.”
Tak jelas apakah maksud ucapanmu yang terakhir. Sebuah ungkapan keprihatinan ataukah sekedar selorohan kecil saja?
Kamis, 05 Juli 2007
Kopi -- (Hujan Kupu-kupu, chapter 2)
Dimadahkan Oleh
Muzzammil Massa
Pukul
07.43
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


4 Reaksi:
stuck! stuck! stuck!
sekarang aku benar-benar pusing, bagaimana cara menyelesaikannya???
ah, ayooo semangat! pasti bisa, menjadi pekalah dirimu pada stimulus sekecil apapun yang bergeming di sekitar panca indera-mu; dan tumpahkan semua dalam secangkir kopi lagi. aku menunggu-nunggu ...
teman, gue dah me-link dirimuw..
ceritanya indah..hujan, kupu², kopi, dan sebuah perpisahan karena ada tamu yang ternyata orang ketiga dalam hubungan mereka ...wow...
Posting Komentar