
Lolos dari gerojokan hujan, kupu-kupu itu kini terjebak di beranda depan. Beberapa kali tubuhnya tampak membentur kaca jendela, seolah dibingungkan oleh sekat tak kasat mata di hadapannya. Beranda tersebut memang tergolong kecil. Sempitnya kanopi menggiring tumpahan hujan jatuh menumbuk hamparan bebatuan kerikil di bawahnya. Menciptakan percikan-percikan yang kemudian menempias masuk ke lantai ubin. Beberapa di antaranya menyentuh sayap si kupu-kupu. Menjadikan sayap itu lemas dan basah. Kupu-kupu itu terlihat semakin payah. Kepakannya selemah dawai biola bergesek sengau. Lambat dan sekarat.
Sedari tadi mataku tak dapat melepaskan pandangan dari serangga kecil yang belum juga menemukan celah masuk rumah itu. Antara ragu dan kasihan, aku mendekati jendela. Memandangi si kupu-kupu yang mengirim pesan iba lewat gerak-gerik sepasang sungutnya. Aku dipengaruhi oleh mitos jaman dulu. Syahdan, kupu-kupu yang masuk rumah adalah pertanda akan datangnya seseorang, umumnya karib jauh. Aku tak ingin ada seorang pun datang saat ini. Tidak saat aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Perempuan pemilik rumah.
Aku seperti mendengar gerundelan resah kupu-kupu itu. Seraya mengetuk-ngetukkan kaki tipisnya yang panjang di pelipis jendela, ia seakan berkata padaku : “ayolah, biarkan aku masuk menikmati kehangatan di dalam sana. Sebentar lagi aku mungkin mati. Dan kau nantinya harus bertanggung jawab akan binasanya makhluk ringkih ini.”
Ancaman kupu-kupu itu barangkali hanya hidup dalam kepalaku saja, namun olehnya aku tersenyum. Kubuka jendela. Membiarkan kupu-kupu itu masuk menikmati terpaan cahaya hangat lampu kristal yang tergantung di ruang tengah. Gairahnya seakan kembali. Terbang berputar dan berkelik bak bola mata gadis bali sedang menari. Lantas, tanpa kehilangan keanggunan, ia memilih hinggap di bibir guci tanah liat yang berdiri tegak di salah satu sudut ruangan. “Terima kasih,” katanya, “aku janji takkan mengganggu kau dan kekasihmu.”
Catatan : postingan ini adalah intro dari cerpenku yang berjudul hujan kupu-kupu. hmm... tengah kupikirkan bagaimana cara mengakhirinya
Selasa, 03 Juli 2007
Hujan Kupu-kupu (intro)
Dimadahkan Oleh
Muzzammil Massa
Pukul
01.08
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


2 Reaksi:
Ih, intronya aja cantik begini ... apalagi kalau sudah jadi cerpennya :) pasti dapet cara yang nggak kalah cantik untuk nemuin endingnya. apakah kupu-kupu itu pertanda akan datangnya orang ketiga? hmm mudah-mudahan jangan yaaaa :)
ah hanny, akhir ceritanya sudah ada di kepala. tinggal memindahkannya dalam rangkaian kata-kata itu yang tak mudah. anyway thx for the comment.
Posting Komentar