Senin, 02 Juli 2007

Antara Lapangan Basket, Hujan dan Sawah


Ok, aku akui jalan-jalan di Danau Unhas sekitar jam 4- 6 sore itu menyenangkan. Duduk sendiri di tepiannya. Kadang-kadang kau akan menemukan beberapa orang berjogging-ria di sana. Atau para bapak --dan terkadang anak muda memancing walau pekerjaan itu sebenarnya dilarang pihak kampus. Aku suka membuat puisi atau tulisan-tulisan sejenis di sini. Sembari meneguk sebotol air tahu manis, hmmm...dunia ini terasa indah.



Namun hal itu tidak berlaku lagi. Setidaknya selama beberapa hari belakangan ini, danau Unhas menjadi tempat yang membosankan. Mungkin gara-gara cuaca kota Makassar yang agak membingungkan. Kadang terik di siang, lalu mendadak hujan menderai kala sore. Entahlah, sore setelah hujan beberapa hari lalu aku tetap memaksakan diri keluar. Sekedar demi mencari udara hangat yang bisa kuhirup. Hangat? Mimpi! tetap saja akan terasa dingin. Kau tentu tahu bagaimana keadaan udara saat rinai berlalu.



Baiklah, kebosanan menyela antara dingin yang menderu. Aku putuskan ke tempat lain yang tak terlalu jauh. Lapangan basket. Hey? Sudah dicat baru rupanya! Beberapa lelaki berseragam merah marun-oranye tampak asyik merokok. Sedang di belakang mereka lapangan basket kampus itu tampak seperti baru. Cat warna mencolok, bersih dan apik. Ah, aku ingat! beberapa hari lalu para pekerja yang sama tampak sibuk menabur adonan semen di atas lapangan lama. Sekarang mereka sudah selesai bekerja rupanya. Hebat! Ternyata mereka mampu juga menyelesaikan proyek besar rektorat tersebut. Mengingat beberapa hari ini, hujan di Makassar seperti tak mau berhenti melunturkan jerih payah mereka.

Ah, kesulitan hidup. Selalu saja dapat teratasi dengan canda tawa dan beberapa batang rokok. Selain para pekerja proyek ini, mestinya ada beberapa orang lain yang ikut menggerutu karena hujan yang tak mau peduli. Mereka adalah; tukang ojek, daeng becak, petani garam, penjual es cendol, penjual es tong-tong, dan penjual lainnya yang menggantungkan hidup pada hangatnya cuaca dan cerahnya langit ketika tersenyum.



Banyak orang mengatakan para petani persawahan yang paling diuntungkan atas kondisi cuaca seperti ini. Tapi apakah benar begitu? mungkin dalam kondisi cuaca normal, ya! Oktober -- April adalah saat menyenangkan untuk mulai menanam di bawah limpahan hujan. Dan sebaliknya, April -- Oktober adalah saat teraman untuk menunggu buliran padi, memanen yang telah matang, dan mengolah kembali bongkahan tanah yang mulai membatu.

Tapi saat ini, antara hujan dan kemarau sulit untuk dibedakan. Hujan dapat datang hampir sepanjang tahun. Mendatangkan banjir dan tanah longsor bagi daerah bertanah labil. Setahun kemudian, suasana kemarau dalam kering yang mengerikan datang dan hampir tak sudi untuk berlalu. Sungguh situasi yang sebenarnya tak menguntungkan bagi para petani. Resiko banjir dan gagal panen harus mereka derita. Pun puso dapat terjadi saat kemarau. Saat tanah mengeras dan kehilangan kesuburannya. Petani masih tetap rugi. Belum lagi jika hujan menderu saat mereka mestinya berada di sawah; mencangkul atau membajak. Denyaran petir dapat saja menyambar tiba-tiba, andai tak ada pepohonan atau sesuatu yang lebih tinggi letaknya dibanding kepala-kepala mereka.

Oke, sekarang marilah kita tunjuk hidung seseorang yang menyebabkan anomali seperti ini. Salah siapa? Pabrik yang suka 'kentut' sembarangan, kah? Kendaraan bermotor yang menjejali jalanan, kah? Atau para penebas hutan yang super serakah, kah? Ah, mungkin kita harus berani menunjuk hidung sendiri. Dalam iklim tak menentu seperti ini, tak ada seorang pun yang merasa diuntungkan. Kecuali, mungkin para pawang hujan.


Buset! Baru saja aku ingin mencoba lapangan basket baru ini, hujan keburu datang lagi.

0 Reaksi: