
Jika engkau ingin melihat wajah kedamaian sejati, menarilah kala hujan membelai bumi. Susuri trotoar jalanan dan kota yang basah. Langit tengah mencurahkan kasih sayangnya saat itu. Dan pendar cinta bertebaran di mana-mana. Lantas, bekukanlah waktu, "Hap!" dan kau akan dapat melihat segalanya. Wajah itu. Wajah kedamaian sejati. Kau akan menemuinya di setiap mata yang cemas.
Di satu sudut kau akan mendapati seorang anak kecil menggenggam payung. Ditelitinya setiap manusia yang lewat. Siapa tahu di antara mereka ada yang butuh bantuan. Walaupun di satu sisi anak ini mengharap rupiah, namun lebih penting baginya menjaga orang lain tak basah kuyup kendati dirinya sendiri mesti menahan gigil sampai bibir membiru gemetar dihajar dingin.
Di beberapa tempat bertutup kanopi atau atap tipis sekadarnya. Seorang Pria dewasa akan menengadahkan tangannya meraba hujan yang terasa masih membeku bagimu. Di raut wajah itu tersisa gurat cemas yang berusaha keras ditahannya. "Ada apa? Mengapa secemas itu? Siapa yang menunggumu?" pertanyaan-pertanyaan yang hanya dapat terjawab apabila Kau bisa melihat lebih jauh ke kedalaman matanya. Jika hatimu sedikit lebih tajam, kau akan menemukan seorang perempuan dan anak-anaknya. Mereka menunggu, membuat lingkaran di depan meja makan yang kosong sembari berdoa : "Semoga bapak cepat pulang."
Pun jika kau masih belum bosan dengan perjalanan ini, marilah kita dekati sepasang muda-mudi di pojok halte sana. Keduanya saling merapat dan berbagi kehangatan. Sang lelaki akan bertanya "Tidakkah kau kedinginan, sayang?" yang akan dijawab oleh perempuan, "Tidak, aku tak apa-apa. Tak perlu kau risau." Namun lelaki itu masih tak percaya, bahwa keadaan perempuan yang dikasihinya itu baik-baik saja. Di lepaskan baju hangatnya sendiri. Dan dengan kedua tangannya pula baju hangat itu telah berpindah ke tubuh sang gadis. Gantian sang lelaki yang mengigil. Namun baginya dingin telah sirna tatkala tatapan hangat sang perempuan, kekasihnya menyapu segenap ruang kalbu.
Baiklah, kita akhiri jalan-jalan dan tarian ini. Akan ku nyalakan saklar kembali, Klik! Dan sang waktu berjalan seperti biasa lagi.
Selasa, 03 Juli 2007
Jika Engkau Ingin Melihat Wajah Kedamaian Sejati
Dimadahkan Oleh
Muzzammil Massa
Pukul
02.51
Sejenis Resap (Renungan Esai Pendek)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 Reaksi:
Posting Komentar